Inovasi pembangunan infrastruktur di Bali tidak hanya berfokus pada pariwisata pantai, tetapi juga merambah ke pembangunan ikon baru yang ambisius. Proyek Turyapada Tower Bali telah menarik perhatian publik karena diklaim memiliki keunikan dan fungsi yang tak kalah penting dari menara-menara ikonis dunia seperti Tokyo Tower atau Menara Eiffel. Menara ini dibangun di kawasan Bali Utara, tepatnya di Desa Pegayaman, Kabupaten Buleleng, pada titik ketinggian yang strategis. Kehadiran Turyapada Tower Bali diharapkan mampu mendongkrak perekonomian wilayah Buleleng, yang selama ini dianggap tertinggal dibandingkan Bali Selatan, sekaligus menjadi landmark teknologi dan budaya terbaru di Pulau Dewata.
Turyapada Tower Bali didesain dengan ketinggian total mencapai 115 meter dari puncak bukit, dengan ketinggian puncak menara berada di sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Desain menara ini terinspirasi dari kearifan lokal Bali, khususnya konsep Tri Hita Karana yang mencerminkan keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Pembangunannya tidak hanya berfungsi sebagai menara telekomunikasi untuk meningkatkan kualitas siaran TV digital dan layanan internet, tetapi juga sebagai destinasi wisata edukatif dan budaya. Proyek ambisius ini telah dimulai sejak akhir tahun 2024 dan ditargetkan selesai serta diresmikan pada bulan Juni 2026 oleh pihak Pemerintah Provinsi Bali.
Salah satu fitur paling menarik dari Turyapada Tower Bali adalah fasilitas wisatanya. Menara ini direncanakan dilengkapi dengan restoran putar (revolving restaurant) di ketinggian tertentu, menawarkan pemandangan panorama 360 derajat yang mencakup seluruh kawasan Buleleng, garis pantai utara, hingga perbukitan. Selain itu, akan ada jembatan kaca (sky deck) yang memungkinkan pengunjung merasakan sensasi berdiri di udara. Untuk memperkuat aspek edukasi, di kaki menara akan dibangun museum kebudayaan dan galeri seni yang didedikasikan untuk memamerkan kekayaan budaya Bali Utara.
Total anggaran yang dialokasikan untuk pembangunan menara dan kawasan pendukungnya diperkirakan mencapai Rp 600 miliar, didanai melalui APBD Provinsi Bali dan kemitraan strategis dengan perusahaan telekomunikasi. Pembangunan fisik menara ini diawasi ketat oleh tim ahli konstruksi dan keamanan sipil, termasuk konsultan dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Struktur dan Konstruksi (Puslitbangsuk) untuk memastikan menara tahan gempa dan aman dari faktor cuaca ekstrem.
Kehadiran Turyapada Tower Bali ini memberikan harapan baru bagi masyarakat Bali Utara. Dinas Pariwisata Provinsi Bali memproyeksikan, setelah beroperasi penuh, menara ini akan mampu menarik lebih dari 5.000 pengunjung per hari pada musim puncak, menciptakan ribuan lapangan kerja baru di sektor pariwisata, dan mendongkrak pendapatan desa-desa di sekitarnya. Dengan fungsi ganda sebagai menara teknologi dan ikon wisata budaya, menara ini siap menjadi masterpiece baru yang akan memperkaya peta pariwisata Indonesia.
