Peran strategis para petani dalam Mempertahankan Kemerdekaan terwujud melalui penyediaan pangan bagi para gerilyawan yang bertempur di garis depan. Tanpa dukungan distribusi logistik dari desa-desa, pasukan republik akan kesulitan menghadapi gempuran militer penjajah yang jauh lebih modern. Petani menjadi mata dan telinga bagi pejuang di medan perang yang sulit.
BTI mengorganisir massa di akar rumput untuk melakukan sabotase terhadap aset-aset perkebunan yang ingin dikuasai kembali oleh Belanda. Tindakan berani ini merupakan bagian dari taktik bumi hangus untuk Mempertahankan Kemerdekaan dari ambisi kembalinya imperialisme di tanah air. Mereka rela menghancurkan hasil panen sendiri demi memastikan musuh tidak mendapatkan pasokan makanan.
Pendidikan politik yang diberikan oleh BTI meningkatkan kesadaran para petani tentang pentingnya kedaulatan tanah sebagai harga mati. Mereka memahami bahwa ikut serta dalam Mempertahankan Kemerdekaan adalah jalan satu-satunya untuk menghapuskan sistem feodalisme yang selama ini sangat menindas. Kesadaran kelas ini memperkuat mentalitas juang rakyat jelata di daerah-daerah terpencil.
Di berbagai daerah, anggota BTI membentuk laskar-laskar rakyat yang bertugas menjaga keamanan desa dari infiltrasi mata-mata pihak musuh. Keberadaan laskar tani ini sangat efektif dalam Mempertahankan Kemerdekaan karena mereka menguasai medan geografis dengan sangat baik. Sinergi antara petani dan tentara reguler menjadi kunci kekuatan pertahanan rakyat semesta yang sangat ditakuti.
BTI juga aktif dalam menyuarakan reformasi agraria di tengah suasana perang demi menjamin keadilan sosial bagi rakyat miskin. Mereka percaya bahwa perjuangan senjata harus berjalan beriringan dengan perbaikan nasib ekonomi kaum marhaen di seluruh pelosok Nusantara. Hal ini membangkitkan loyalitas massa yang luar biasa terhadap pemerintah Republik Indonesia yang baru berdiri.
Setelah kedaulatan diakui secara internasional, kontribusi besar kaum tani dalam masa revolusi tetap menjadi catatan sejarah yang sangat fundamental. Mereka telah membuktikan bahwa rakyat kecil adalah tulang punggung pertahanan negara yang tidak bisa diremehkan oleh siapapun. Warisan militansi BTI pada masa itu memberikan corak tersendiri bagi gerakan sosial di Indonesia.
